
Oleh: Arshakkulmin Larita
Gorontalo, 28 Oktober 2026 – Sulit membayangkan di satu wilayah, desa Mopuya, kecamatan dumoga utara. Dari satu arah terdengar azan dari masjid, dari arah lain lonceng gereja menjadi bagian dari suasana desa, sementara aktivitas keagamaan Hindu berlangsung dalam ruang sosial yang sama. Tidak jauh dari tempat-tempat ibadah tersebut, warga bertemu di jalan, pasar, sekolah, tempat kerja, kebun, dan berbagai kegiatan kemasyarakatan. Mereka berbeda dalam keyakinan, tradisi, bahasa, dan latar budaya, tetapi tetap berbagi ruang kehidupan yang sama. Pertanyaannya bukan lagi apakah masyarakat Bolaang Mongondow berbeda, melainkan apakah perbedaan itu mampu kita kelola menjadi kekuatan untuk hidup sebagai saudara.
Bolaang Mongondow menjadi focus penulis tentang gambaran multikultural dan toleransi, merupakan ruang sosial yang mempertemukan berbagai identitas agama, suku, bahasa, dan budaya. Keberagaman tersebut bukan sekadar data demografis, melainkan kenyataan yang hadir dalam hubungan bertetangga, pendidikan, pekerjaan, perdagangan, kegiatan keagamaan, dan kehidupan sosial. Dumoga menjadi salah satu wilayah yang menarik untuk melihat bagaimana perbedaan tersebut berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di Desa Mopuya yang dihuni oleh masyarakat dengan latar Mongondow, Minahasa, Jawa, Bali, dan kelompok lainnya. Dalam situasi seperti ini, persaudaraan tidak lahir karena semua orang memiliki identitas yang sama, tetapi karena masyarakat mampu membangun ruang bersama tanpa menghapus identitas masing-masing.
Keberagaman memang dapat menjadi kekuatan, tetapi tidak otomatis menghasilkan kerukunan. Perbedaan agama dan budaya dapat menjadi sumber pembelajaran ketika disertai penghormatan, tetapi dapat berubah menjadi jarak ketika dibungkus prasangka, stereotip, fanatisme, atau sikap merasa paling benar dalam kehidupan sosial. Karena itu, toleransi tidak cukup dipahami sebagai sikap membiarkan orang lain berbeda, tetapi sebagai kesediaan untuk menghormati hak orang lain menjalankan keyakinan dan kebudayaannya. Dari sinilah gagasan “Berbeda Tetapi Bersaudara” menemukan maknanya persaudaraan bukan keseragaman, melainkan kemampuan hidup bersama di tengah perbedaan.
Toleransi Bukan Sekadar Slogan
Toleransi sering terdengar indah dalam pidato, spanduk, dan kegiatan seremonial, tetapi maknanya justru diuji dalam kehidupan sehari-hari. Persaudaraan akan kehilangan makna ketika seseorang menghormati kelompoknya sendiri tetapi merendahkan keyakinan, tradisi, atau identitas kelompok lain. Karena itu, ukuran toleransi bukan seberapa sering kita berbicara tentang kerukunan, melainkan bagaimana kita bersikap ketika berhadapan dengan orang yang berbeda. Tidak merendahkan, tidak menyebarkan prasangka, menghormati ibadah, membuka ruang dialog, dan menyelesaikan persoalan melalui musyawarah merupakan bentuk toleransi yang jauh lebih bermakna daripada sekadar slogan.
Masyarakat yang toleran bukan masyarakat yang tidak pernah mengalami perbedaan atau konflik kepentingan. Perbedaan pendapat, kesalahpahaman, dan gesekan sosial tetap mungkin terjadi dalam masyarakat yang majemuk. Yang menentukan kualitas kehidupan bersama adalah kemampuan masyarakat mengelola persoalan tersebut tanpa menyeret identitas agama, suku, atau budaya menjadi alasan untuk bermusuhan. Kedewasaan sosial justru terlihat ketika perbedaan dapat dibicarakan secara terbuka tanpa mengubah tetangga menjadi lawan.
Keberagam Agama dan Budaya
Dumoga memperlihatkan bahwa keberagaman agama dan budaya dapat hadir dalam satu ruang kehidupan tanpa harus menghilangkan identitas masing-masing. Umat Islam menjalankan salat berjamaah, pengajian, Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha; umat Kristen menjalankan ibadah gereja, Natal, Paskah, dan pelayanan sosial, sementara masyarakat Hindu menjalankan persembahyangan serta berbagai tradisi keagamaannya. Keberagaman itu semakin terlihat dalam kebudayaan masyarakat Bali melalui tradisi Ogoh-Ogoh menjelang Hari Nyepi dan dalam tradisi masyarakat Minahasa melalui pengucapan syukur yang menjadi ruang perjumpaan keluarga dan masyarakat. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa agama dan budaya bukan sekadar identitas pribadi, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial yang membutuhkan ruang untuk dihormati.
Gambaran konkret dapat dilihat di Desa Mopuya Selatan, Kecamatan Dumoga Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow, ketika rumah ibadah dari beberapa agama hadir dalam kawasan sosial yang berdekatan. Masjid Al-Muhajirin, Gereja GMIBM Jemaat Immanuel Mopuya, dan Pura Puseh menjadi contoh bagaimana kehidupan keagamaan yang berbeda dapat berlangsung dalam ruang masyarakat yang sama. Kedekatan tersebut memperlihatkan bahwa suara azan, lonceng gereja, dan aktivitas keagamaan Hindu dapat menjadi bagian dari keseharian masyarakat tanpa harus diperlakukan sebagai ancaman terhadap kelompok lain. Di sinilah toleransi memperoleh bentuk yang nyata, bukan menyeragamkan keyakinan, tetapi memberi ruang agar setiap orang dapat menjalankan keyakinannya dengan aman dan bermartabat.
Keberagaman Dumoga juga tidak dapat dilepaskan dari perjumpaan berbagai identitas budaya. Masyarakat Mongondow, Minahasa, Jawa, Bali, dan kelompok lainnya membawa bahasa, adat, tradisi, serta pengalaman sosial yang berbeda ke dalam ruang kehidupan bersama. Bahasa Mongondow, bahasa Bali, dan berbagai bahasa daerah lainnya bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga bagian dari identitas dan warisan budaya. Karena itu, mencintai budaya sendiri tidak harus berarti menutup diri dari budaya orang lain. Justru masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang mampu mempertahankan identitasnya sambil memberikan penghormatan yang sama kepada identitas kelompok lain.
Sekolah sebagai Ruang Belajar Toleransi
Sekolah memiliki posisi strategis karena di sanalah generasi muda belajar mengenal perbedaan secara langsung. Di dalam satu kelas, siswa dapat berasal dari agama, suku, bahasa, keluarga, dan kebiasaan yang berbeda. Jika perbedaan tersebut dikelola melalui pembelajaran yang terbuka, sekolah dapat menjadi tempat anak belajar bahwa keberagaman bukan alasan untuk memilih teman berdasarkan identitas. Sebaliknya, jika stereotip dan diskriminasi dibiarkan, sekolah dapat menjadi tempat berkembangnya prasangka yang kemudian terbawa ke kehidupan masyarakat.
Pendidikan toleransi karena itu tidak cukup diajarkan sebagai definisi dalam buku pelajaran. Nilai tersebut perlu hadir dalam cara guru memperlakukan siswa, cara siswa bekerja dalam kelompok, cara sekolah menyelesaikan konflik, serta kesempatan untuk mengenal budaya dan keyakinan yang berbeda. Kegiatan dialog, kerja kelompok lintas latar belakang, bakti sosial, kegiatan lingkungan, dan pengenalan budaya daerah dapat menjadi pengalaman konkret bagi siswa untuk mempraktikkan penghormatan terhadap perbedaan. Pendidikan semacam ini penting karena persaudaraan tidak hanya perlu diwariskan melalui nasihat, tetapi dibentuk melalui pengalaman hidup bersama.
Berbeda Tetap Basudara
“Berbeda tetap basudara” bukan berarti perbedaan harus disembunyikan agar masyarakat terlihat rukun. Persaudaraan justru menjadi bermakna ketika masyarakat mampu mempertahankan identitas agama, suku, bahasa, dan budayanya tanpa menggunakan identitas tersebut untuk merendahkan kelompok lain. Masyarakat Mongondow memiliki hak mempertahankan bahasa dan kebudayaannya, sebagaimana masyarakat Bali, Minahasa, Jawa, dan kelompok lainnya memiliki hak yang sama. Prinsipnya sederhana, identitas boleh berbeda, tetapi martabat manusia tetap setara.
Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip tersebut harus terlihat dalam tindakan. Di desa, sekolah, tempat kerja, pasar, kegiatan adat, rumah ibadah, hingga ruang digital, setiap orang memiliki kesempatan untuk memperkuat atau justru merusak hubungan sosial. Menghormati waktu ibadah, membantu tetangga yang mengalami musibah, ikut gotong royong, tidak menghina tradisi orang lain, dan menahan diri dari penyebaran ujaran kebencian merupakan tindakan kecil dengan dampak sosial yang besar. Nilai Mo’oaheraan, yang dalam artikel ini ditempatkan sebagai nilai saling menghargai, menjadi relevan untuk memperkuat kesadaran bahwa kehidupan bersama membutuhkan penghormatan terhadap keberadaan orang lain.
Merawat Persaudaraan dari Bolaang Mongondow
Merawat persaudaraan tidak dapat diserahkan hanya kepada pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, atau guru. Keluarga memiliki peran membentuk cara anak melihat orang yang berbeda, sekolah membentuk pengalaman sosial generasi muda, sementara masyarakat menciptakan ruang perjumpaan dalam kehidupan sehari-hari. Pemerintah desa, tokoh agama, tokoh adat, pemuda, dan kelompok masyarakat dapat memperkuat hubungan tersebut melalui dialog, gotong royong, kegiatan sosial, olahraga, kegiatan lingkungan, serta forum lintas budaya. Dengan demikian, toleransi tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan sosial.
Tantangan sebernya berada di ruang digital. Informasi yang mengandung penghinaan terhadap agama, suku, atau kelompok tertentu dapat menyebar lebih cepat daripada klarifikasi dan dialog. Karena itu, masyarakat, terutama generasi muda, perlu memiliki kemampuan memeriksa informasi sebelum membagikannya, menghindari bahasa yang merendahkan, dan tidak ikut menyebarkan konten yang dapat memperuncing perbedaan. Menjaga persaudaraan di era digital berarti menjaga ucapan dan tindakan, baik ketika berhadapan langsung maupun ketika berada di balik layar.
Bolaang Mongondow tidak membutuhkan keseragaman untuk menjadi masyarakat yang kuat. Yang dibutuhkan adalah kemampuan mengelola perbedaan agar agama, suku, bahasa, dan budaya tidak berubah menjadi tembok pemisah. Mopuya dan Dumoga memberikan gambaran bahwa masyarakat dapat berbagi ruang sosial dengan identitas yang berbeda ketika terdapat penghormatan, komunikasi, dan kepedulian bersama. Namun, kondisi tersebut tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang akan bertahan dengan sendirinya; toleransi harus terus dirawat melalui tindakan nyata.
Karena itu, persaudaraan harus dimulai dari hal yang paling sederhana: menyapa tetangga yang berbeda, menghormati ibadah orang lain, membantu ketika terjadi musibah, bekerja bersama, dan mengajarkan anak untuk tidak menilai seseorang hanya berdasarkan identitasnya. Generasi muda juga perlu diberi ruang untuk bertemu, berdialog, bekerja sama, dan mengenal kebudayaan yang berbeda agar keberagaman tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi pengalaman hidup. Jika langkah-langkah tersebut dilakukan secara konsisten, keberagaman dapat menjadi modal sosial untuk membangun masyarakat yang lebih terbuka dan saling menghargai.
Pada akhirnya, berbeda adalah kenyataan, menghargai adalah pilihan, toleransi adalah kebiasaan, dan persaudaraan adalah tanggung jawab bersama. Kita tidak harus menjadi sama untuk dapat hidup berdampingan, dan kita tidak harus meninggalkan identitas untuk menghormati identitas orang lain. Kitorang boleh berbeda, tetapi torang tetap basudara, ( Berbeda beda Tetspi Tetap satu )
Guru di SMA Negeri 1 Lolak
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang Program Studi Magister Pedagogi
Baca Berita Lainnya Di https://pohalaa.com/





