
Cigombong, 1 Agustus 2026 – Film tidak hanya menjadi media hiburan. Di tangan pemuda, film dapat digunakan untuk merekam pengetahuan lokal, memperkenalkan potensi, menyuarakan persoalan, dan menghadirkan desa melalui sudut pandang masyarakatnya sendiri. Semangat tersebut menjadi dasar pelaksanaan pertemuan pertama Sekolah Film Desa Kelas Dasar 1 di Aula Kecamatan Cigombong, Sabtu (1/8/2026).
Sekolah Film Desa merupakan program kolaboratif antara IPB University, Pemerintah Kecamatan Cigombong, DPK KNPI Kecamatan Cigombong, dan Kolektips Cinema Cigombong. Program ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas pemuda dalam bidang perfilman sekaligus membangun ekosistem kreatif yang tumbuh dari kehidupan masyarakat desa. Melalui program tersebut, pemuda tidak hanya belajar menggunakan kamera, merekam suara, atau menyunting gambar. Mereka juga didorong untuk melihat desanya secara lebih mendalam, menemukan cerita dari lingkungan terdekat, serta mengolah pengalaman masyarakat menjadi karya yang memiliki nilai sosial.
Dalam sambutannya, Ketua Tim Dosen Pulang Kampung Sekolah Film Desa sekaligus sebagai warga desa yang lahir dan besar di Cigombong, Dr. Rajib Gandi, menjelaskan bahwa program tersebut dibangun sebagai langkah awal untuk menumbuhkan ekosistem perfilman di tingkat desa.
“Desa merupakan lokus yang sangat menarik karena menyimpan banyak cerita, pengetahuan, kebudayaan, potensi, dan berbagai persoalan kehidupan masyarakat. Melalui Sekolah Film Desa, kami berharap desa tidak hanya menjadi objek yang diceritakan oleh orang lain, tetapi menjadi subjek yang mampu memproduksi dan menyampaikan ceritanya sendiri,” ungkap Dr. Rajib.
Menurut Rajib, selama ini cerita mengenai desa sering kali diproduksi menggunakan cara pandang pihak luar. Sekolah Film Desa berupaya membuka ruang agar masyarakat lokal, terutama generasi muda, dapat menentukan sendiri cerita, sudut pandang, dan pesan yang ingin disampaikan kepada publik. Ia menekankan bahwa pemuda memiliki posisi paling strategis dalam membangun ekosistem tersebut. Kedekatan pemuda dengan teknologi digital, kreativitas, dan dinamika kehidupan masyarakat menjadi modal penting untuk melahirkan karya-karya yang berakar pada realitas desa.
“Pemuda merupakan ujung tombak yang strategis. Mereka dapat menjadi pelopor mulai dari menggali gagasan, menulis cerita, melakukan produksi, hingga memperkenalkan karya kepada masyarakat. Pemuda desa tidak cukup hanya menjadi penonton atau konsumen konten. Mereka harus tumbuh menjadi produsen cerita, pengetahuan, dan karya yang berpihak pada desanya,” jelasnya.
Rajib berharap keterampilan yang diperoleh peserta tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Para pemuda diharapkan dapat membentuk kelompok produksi, memperluas jejaring, dan secara konsisten melahirkan film-film yang mengangkat kehidupan masyarakat Cigombong.
Ketua DPK KNPI Kecamatan Cigombong, Akbar Rizal H, juga menyampaikan apresiasi atas terlaksananya program tersebut. Saat diwawancarai, Akbar mengatakan kehadiran Sekolah Film Desa menjadi contoh nyata bagaimana perguruan tinggi dapat berkolaborasi dengan organisasi kepemudaan dan masyarakat setempat.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada IPB University. Melalui Program Dosen Pulang Kampung, salah satu warga terbaik Kecamatan Cigombong yang saat ini menjadi dosen di IPB University dapat kembali ke kampung halamannya dengan membawa program Sekolah Film Desa yang luar biasa,” ujar Akbar.
Menurutnya, program tersebut tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga membuka ruang bagi pemuda untuk bertemu, bertukar gagasan, bekerja sama, dan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi wilayahnya sendiri.
“KNPI Kecamatan Cigombong berkomitmen untuk terus membuka peluang kolaborasi bagi kegiatan yang dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kapasitas pemuda. Kami berharap Sekolah Film Desa tidak berhenti sebagai pelatihan, tetapi berkembang menjadi ruang belajar dan ruang berkarya yang berkelanjutan,” tambahnya.
Akbar menilai pemuda perlu mendapatkan lebih banyak ruang untuk mengembangkan kreativitasnya. Melalui film, pemuda dapat memperkenalkan potensi wilayah, mendokumentasikan sejarah kampung, sekaligus menyampaikan persoalan masyarakat dengan cara yang lebih menarik dan mudah dipahami.
Dukungan serupa disampaikan Camat Cigombong, R.E. Irwan Somantri, S.STP. Dalam wawancara setelah kegiatan pembukaan, ia menilai Sekolah Film Desa relevan dengan kebutuhan pemuda dalam menghadapi perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang berlangsung semakin cepat.
“Kita hidup dalam era VUCA yang ditandai perubahan cepat, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas. Digitalisasi tidak dapat dihindari sehingga kita harus terus belajar dan beradaptasi. Sekolah Film Desa diharapkan menjadi ruang pembelajaran yang membantu para pemuda menyiapkan diri menghadapi perkembangan zaman,” kata Irwan.
Ia menjelaskan bahwa keterampilan sinematografi, fotografi, penyuntingan, dan produksi konten semakin dibutuhkan dalam berbagai bidang pekerjaan. Oleh karena itu, pemuda perlu memperoleh kesempatan belajar yang tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga memberikan pengalaman praktik secara langsung.
Meskipun demikian, Irwan mengingatkan bahwa kualitas sebuah karya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis. Karya film juga perlu membawa nilai, pengetahuan, dan manfaat bagi masyarakat.
“Keterampilan sinematografi dan fotografi memiliki peluang besar dalam dunia kerja dan industri kreatif. Hal yang paling penting adalah bagaimana hasil produksi itu tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga dapat menjadi tuntunan. Karya yang dihasilkan harus memberikan manfaat bagi siapa pun yang menyaksikannya. Selamat belajar dan manfaatkan kesempatan emas ini dengan sebaik-baiknya,” pungkasnya.
Pelaksanaan Sekolah Film Desa turut didampingi oleh Kolektips Cinema Cigombong, komunitas film lokal yang memiliki pengalaman dalam memproduksi karya-karya audiovisual, terutama yang mengangkat kehidupan masyarakat pedesaan. Dalam pendampingan kegiatan ini, Kolektips Cinema melibatkan Moch Aldy MA, Dandy Vieri, dan Agung Firmansyah sebagai bagian dari tim Kolektips yang mendampingi peserta dalam proses pembelajaran dan produksi film.
Kehadiran Kolektips Cinema memberikan kesempatan kepada peserta untuk belajar langsung dari para pegiat film lokal yang memahami teknik produksi sekaligus konteks sosial desa. Pendampingan tersebut mencakup proses pengembangan gagasan, penyusunan cerita, pengambilan gambar, wawancara, hingga proses produksi audiovisual secara kolaboratif.
Kolektips Cinema juga memiliki rekam jejak dalam perfilman daerah. Komunitas tersebut meraih Juara I Festival Film Kabupaten Bogor Tahun 2025 melalui film berjudul Mulih ka Jati, Mulang ka Asal. Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam mendampingi peserta mengolah realitas kehidupan masyarakat menjadi cerita yang kuat secara visual dan bermakna secara sosial.
Pada pertemuan pertama, peserta mengikuti orientasi Sekolah Film Desa, pengenalan film partisipatif, penyusunan cerita dan storyboard, teknik dasar pengambilan gambar, perekaman suara, wawancara, penyuntingan, serta manajemen produksi. Peserta kemudian dibagi ke dalam kelompok dan mulai menentukan peran sebagai sutradara, kamerawan, penulis naskah, pewawancara, maupun editor.
Proses pembagian kelompok menjadi bagian penting dalam pembelajaran. Peserta tidak hanya dilatih mengoperasikan peralatan produksi, tetapi juga belajar membangun komunikasi, membagi tanggung jawab, memimpin tim, menyelesaikan perbedaan gagasan, dan bekerja bersama untuk menghasilkan sebuah karya.
Cerita yang dikembangkan tidak dicari dari tempat yang jauh. Para peserta diarahkan untuk melihat kembali lingkungan terdekatnya, mulai dari tokoh masyarakat, aktivitas warga, kebudayaan lokal, potensi ekonomi, sejarah kampung, kondisi lingkungan, hingga berbagai persoalan sosial yang jarang memperoleh ruang dalam media arus utama.
Sekolah Film Desa akan dilanjutkan melalui Kelas Dasar 2 pada Minggu, 9 Agustus 2026. Pada pertemuan tersebut, peserta akan melakukan praktik produksi secara langsung, mulai dari pengambilan gambar, wawancara, pengelolaan kerja tim, peninjauan hasil rekaman, hingga penyusunan awal proses penyuntingan.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah kecamatan, organisasi kepemudaan, dan komunitas film lokal, Sekolah Film Desa diharapkan menjadi titik awal tumbuhnya generasi muda yang mampu membaca desanya secara kritis sekaligus menceritakannya secara kreatif.
Sekolah Film Desa pada akhirnya bukan hanya tentang belajar membuat film. Program ini menjadi ruang untuk memperkuat posisi pemuda sebagai penjaga ingatan, penggerak kreativitas, dan produsen pengetahuan tentang desanya sendiri. Ketika pemuda mampu memegang kamera, menentukan sudut pandang, dan menyampaikan cerita masyarakatnya, desa tidak lagi hanya menjadi objek yang dilihat, tetapi menjadi subjek yang memiliki suara.
Baca Berita lainnya di Pohalaa.com



